Jelang Idul Adha, Ratusan Hewan Kurban Diperiksa Diskannak Siak
Editor : redaksiridarnews | Penulis: Ukma

siak | 11 Juli 2022 | Dilihat : 134

Cegah penularan Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) dari hewan kurban, Dinas Perikanan dan Peternakan (Diskannak) Siak menyebar belasan Dokter Hewan di 14 Kecamatan, sejak H-4 ratusan hewan kurban dari luar Kabupaten diperiksa.

SIAK, RIDARNEWS.COM - Cegah penularan Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) dari hewan kurban, Dinas Perikanan dan Peternakan (Diskannak) Siak menyebar belasan Dokter Hewan di 14 Kecamatan, sejak H-4 ratusan hewan kurban dari luar Kabupaten diperiksa.

Pemeriksaan meliputi dokumen asal ternak, dan antemortum atau sebelum penyembelihan pada hewan kurban, ini untuk memastikan ternak kurban tidak ada yang terinfeksi penyakit menular, salah satunya PMK dan LSD yang sedang mewabah.

Pemeriksaan Antemortum meliputi bagian mulut, kaki, mata dan kulit, Kepala Diskannak Siak drh Hj Susilawati MM mengatakan, dari data sementara yang diinput, saat ini ada peningkatan jumlah hewan kurban jika dibanding tahun lalu, peningkatan terjadi pada 2 jenis hewan kurban, seperti Sapi tahun 2021 ada 2527 ekor ditahun 2022 naik menjadi 2886 ekor, Kerbau dari 112 saat ini menjadi 135 ekor,  sementara untuk kambing pada 2021  ada 1017 ekor turun menjadi 831 ekor.

Kata Susi, meningkatnya jumlah hewan kurban juga berbanding lurus dengan resiko penyebaran penyakit seperti PMK dan LSD, Sebab, meski peruntukannya untuk di sembelih, namun ternak yang datang dari luar Siak bisa saja membawa penyakit, terutama saat ternak menunggu waktu penyembelihan.

"Jika disekitarnya ada ternak yang berkuku belah, bisa langsung tertular, medianya melalui udara dan juga manusia yang kontak langsung dengan ternaknya, kemanusianya gak akan bermasalah, tapi keternak sekitarnya akan jadi masalah besar," terang Dokter Hewan, Senin (11/07/2022).

Susi mengatakan, salah satu kasus yang ditemukan ada di Kecamatan Sungai Mandau, dari hasil pemeriksaan di lapangan, salah satu ternak kurban tepatnya di Pesantren Gontor terdeteksi memiliki gejala PMK.

Ternak tersebut langsung mendapatkan penanganan khusus, dijauhkan dari ternak lain, dan setelah dipotong daging langsung di rebus selama 30 menit, sebelum dibagikan ke penerima.

"Ini upaya untuk pencegahan, kita khawatir penularan bisa terjadi melalui daging ternak", ujarnya.

Sementara untuk Pemeriksaan Posmortum, kegiatan dimulai setelah Shalat Id hingga H+3, karena masih ada yang melakukan penyembelihan.

"Seperti biasa, Untuk Posmortum kita cek organ dalamnya, biasanya di organ Hati, kita waspadai ada cacing hati, dan disarankan sebaiknya tidak dikonsumsi", kata Susi lagi. (Inf)

Artikel Kanan
Artikel Kanan